Pertambangan dan TPB: Bagaimana cara mengatasi ketidaksesuaian materialitas?

Sebagian besar perusahaan pertambangan terbesar di dunia kini mencantumkan TPB Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam pelaporan keberlanjutan mereka. Sungguh menggembirakan melihat tindakan seperti ini oleh satu dari sedikit sektor yang mengklaim keterkaitan yang kuat dengan semua 17 tujuan TPB. Namun, banyak pelaporan terkait TPB itu dangkal dan dipoles serta, yang mengkhawatirkan, hampir tidak ada pelaporan publik perusahaan tentang dampak negatif yang dapat mereka hadapi dalam pencapaian tujuan TPB. Meskipun tidak ada bukti bahwa perusahaan secara sengaja keliru menampilkan pengaruh mereka pada TPB, tuduhan ‘SDG-washing/pemolesan laporan TPB’ mungkin tetap ada dan laporannya pun tetap tidak seimbang. Di luar pelaporan, ada bukti terbatas bahwa perusahaan berskala besar mengambil tindakan praktis yang akan berkontribusi pada pencapaian TPB.

Pendahuluan

Dengan waktu tersisa hanya 10 tahun untuk mencapai TPB pada tanggal target tahun 2030, Responsible Mining Foundation dan Columbia Center on Sustainable Investment telah mempublikasikan pembaruan status tentang langkah yang saat ini diambil oleh perusahaan pertambangan berskala besar untuk mengintegrasikan TPB ke dalam strategi bisnis mereka dan untuk mengambil tindakan proaktif yang akan membantu mencapai Tujuan-Tujuan tersebut. Laporan ini, sebagai kelanjutan dari Atlas 2016 yang memetakan pertambangan ke TPB, menyimpulkan bahwa sebagian besar perusahaan pertambangan masih memiliki ruang yang cukup signifikan untuk melakukan perbaikan dan mengambil langkah strategis yang diperlukan guna memenuhi potensi besar mereka membantu mencapai TPB.

Meskipun laporan berfokus pada kesalingterkaitan antara perusahaan berskala besar dan TPB, terdapat kesamaan penting dengan sektor pertambangan rakyat dan skala kecil (artisanal and small-scale mining/ASM), yang juga memiliki potensi dampak positif dan negatif pada semua 17 tujuan TPB.

Temuan tentang sejauh mana tindakan perusahaan pertambangan berskala besar pada pencapaian TPB didasarkan pada hasil RMI Report 2020

yang diterbitkan oleh Responsible Mining Foundation. RMI Report 2020 menilai kebijakan, praktik, dan tindakan di lokasi tambang dari 38 perusahaan pertambangan berskala besar yang tersebar secara geografis, yang bersama-sama menyumbang sekitar 28 persen dari nilai global produksi pertambangan.

Beberapa perusahaan pelopor menonjol karena kinerjanya yang relatif lebih baik daripada perusahaan lainnya, dalam sampel 38 perusahaan pertambangan. Tetapi ada ketidaksesuaian yang mencolok antara sejumlah kebijakan pendukung TPB yang dapat ditunjukkan oleh perusahaan dan langkah mereka memprioritaskan TPB yang sama. Misalnya, TPB 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan TPB 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak), keduanya merupakan TPB yang paling sering diprioritaskan dan paling disorot dalam analisis material, tetapi menunjukkan sejumlah tingkat tindakan terlemah oleh perusahaan pertambangan.

Tiga contoh TPB yang perusahaan golongkan sebagai material namun kerap menunjukkan tindakan terbatas

Wawasan Riset ini mendalami temuan tentang tiga topik yang ada dalam daftar masalah “material” dari sebagian besar perusahaan pertambangan, pemegang saham, investor, dan kreditur selama bertahun-tahun: Komunitas, Air, dan Gender. Ketiga topik ini menunjukkan kesenjangan yang signifikan antara penyelesaian yang dilakukan oleh perusahaan pertambangan dan hasil yang diharapkan masyarakat, seperti yang dijabarkan dalam TPB.

TPB 3:
Menjamin hidup yang sehat dan mempromosikan kesejahteraan bagi semua di segala usia

TPB 3 adalah contoh yang baik tentang bagaimana salah satu TPB dapat dipetakan secara keliru ke aktivitas yang memiliki keterkaitan yang sangat terbatas dengan tujuan dan target sebenarnya. Sebagian besar perusahaan dan asosiasi pertambangan mengaitkan sebagian besar kontribusi mereka ke TPB 3 melalui kebijakan dan praktik Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Selama beberapa dekade, pengurangan korban jiwa dan insiden menjadi prioritas utama dan masalah yang “material” bagi sebagian besar perusahaan pertambangan.

Tetapi meskipun beberapa aspek K3 terkait dengan TPB 3 (mis. AIDS, TB dan penyakit menular di tempat kerja, jaminan kesehatan untuk semua, dan pengelolaan bahan kimia berbahaya), K3 secara lebih eksplisit dibahas pada TPB 8 tentang pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan pekerjaan yang layak. Terkait hal ini, dalam konteks pertambangan, TPB 3 sangat berfokus pada kesejahteraan masyarakat terdampak.

Tetapi meskipun beberapa aspek K3 terkait dengan TPB 3 (mis. AIDS, TB dan penyakit menular di tempat kerja, jaminan kesehatan untuk semua, dan pengelolaan bahan kimia berbahaya), K3 secara lebih eksplisit dibahas pada TPB 8 tentang pertumbuhan ekonomi, lapangan kerja, dan pekerjaan yang layak. [4] Terkait hal ini, dalam konteks pertambangan, TPB 3 sangat berfokus pada kesejahteraan masyarakat terdampak.

Faktanya, dalam RMI Report 2020, indikator yang menilai sejauh mana operasi perusahaan melakukan dan mengungkap penilaian rutin atas dampak mereka terhadap kesehatan masyarakat dan menerapkan rencana untuk mengelola dampak-dampak ini adalah salah satu yang mendapat skor terendah, dengan skor rata-rata hanya 8% dari 38 perusahaan yang dinilai. Sebanyak 22 perusahaan mendapat skor 0 pada indikator ini, tanpa ada bukti yang relevan.

Dengan mempertimbangkan keenam indikator terkait TPB 3 dalam RMI Report 2020, perusahaan menunjukkan skor rata-rata keseluruhan hanya 12% (Lihat Gambar 1). Hal ini terkait tindakan seperti penyediaan layanan kesehatan bagi pekerja wanita, pengelolaan bahan-bahan berbahaya, pengelolaan kualitas air dan pemantauan kualitas udara.g.

TPB 6:
Menjamin akses atas air dan sanitasi bagi semua

TPB 6 juga menghadirkan aspek-aspek yang menantang bagi industri pertambangan. Dalam pola yang serupa dengan TPB 3, perusahaan pertambangan seringkali mempublikasikan kontribusi positif mereka terhadap TPB 6, dalam konteks proyek masyarakat tentang air dan sanitasi, namun hanya ada sedikit bukti bahwa perusahaan secara sistematis mengatasi potensi dampak buruk operasi mereka terhadap air atau mengungkap data tentang dampak operasi terhadap kualitas air, di lokasi, dan di sektor hilir.

Hal ini sangat memprihatinkan, karena TPB 6 adalah salah satu dari tiga TPB yang mana perusahaan pertambangan menimbulkan risiko dampak negatif tertinggi, menurut S&P Global (bersama-sama dengan TPB 14 tentang Ekosistem Lautan dan TPB 15 tentang Ekosistem Daratan).

Dan penting untuk diperhatikan bahwa, meskipun pembuangan tailing (limbah tambang) di sungai, danau, atau lingkungan laut menimbulkan ancaman bagi TPB 6 dan 14, hanya satu perusahaan dalam RMI Report 2020 yang dapat menunjukkan bahwa mereka memiliki komitmen formal di lokasi untuk tidak menggunakan metode pembuangan ini. 37 perusahaan lainnya tidak menunjukkan bukti komitmen tersebut dan setidaknya 8 perusahaan secara aktif membuang tailing ke sungai atau lingkungan laut atau menyimpannya di dasar laut.

Secara keseluruhan, ditemukan sedikit atau tidak ada bukti dari banyak perusahaan mengenai tindakan untuk, antara lain: mengurangi dampak buruk operasi mereka terhadap kualitas air dan kuantitas air; mengungkap data tingkat lokasi tambang tentang kualitas air; dan merancang serta menerapkan strategi pengelolaan air dengan berdiskusi dengan pengguna air lainnya.

Dengan mempertimbangkan hasil ketujuh indikator terkait TPB 6 dalam RMI Report 2020, perusahaan menunjukkan skor rata-rata keseluruhan hanya 14% (Lihat Gambar 2).

TPB 5:
Mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua wanita dan anak perempuan

Ketimpangan gender menjadi agenda konferensi, acara, dan lokakarya selama bertahun-tahun. Ikon TPB 5 dapat ditemukan di laporan perusahaan di lebih dari separuh perusahaan yang dinilai. Namun demikian, hasil RMI Report 2020 mengungkap minimnya tindakan pada hal-hal terpenting.

Minimnya tindakan tentang kesetaraan gender tidak sejalan dengan fakta bahwa perusahaan pertambangan seringkali merujuk kontribusi positif mereka pada TPB 5, dalam konteks program mereka untuk meningkatkan kesetaraan gender di Dewan Direksi dan tim manajemen senior. Meskipun program-program ini penting, perusahaan menunjukkan tindakan yang jauh lebih sedikit terkait pencegahan dampak buruk pada kesetaraan gender di antara para pekerja tambang dan di dalam komunitas yang terdampak pertambangan terkait masalah-masalah yang lebih mendasar, seperti memastikan pekerja wanita memiliki APD sesuai gender atau memastikan bisnis yang dipimpin perempuan tidak dikecualikan dari aktivitas dukungan pengadaan lokal.

Secara keseluruhan, kurangnya bukti dari perusahaan pertambangan pada tindakan untuk: melindungi pekerja wanita dari pelecehan dan kekerasan berbasis gender; memastikan pekerja wanita diberikan Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai gender; melakukan penilaian dampak gender dalam komunitas yang terdampak pertambangan; dan mengikutsertakan wanita pengusaha dan bisnis yang dipimpin wanita dalam pengembangan bisnis lokal dan kegiatan pendukung pengadaan lokal. Mempertimbangkan hasil untuk kesembilan indikator terkait TPB 5 dalam RMI Report 2020, perusahaan menunjukkan skor rata-rata keseluruhan hanya 11% (Lihat Gambar 3).

Contoh positif tentang praktik kerja unggulan dan kebijakan transparansi

• Di tambang Serra Azul, Brasil, ArcelorMittal mengembangkan program, melalui tanggung jawab bersama atas kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, yang berupaya meningkatkan kesadaran karyawan tentang konsekuensi penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan lainnya bagi masalah keselamatan kerja dan kesehatan umum. Pelibatan semua karyawan dan rantai manajemen ini mengakibatkan penurunan besar-besaran dalam arti positif dari tes alkohol dan obat-obatan, dan pada akhirnya mengarah pada pengurangan ketidakhadiran dan hari-hari kerja yang hilang. (TPB 3)

• Di Mount Isa Mines, Australia, Glencore mengembangkan aplikasi ponsel cerdas dan portal kualitas udara waktu aktual untuk memberi akses ke jaringan pemantauan kualitas udara yang komprehensif kepada masyarakat. (TPB 3)

• CODELCO mengadopsi Strategi Keragaman Gender pada tahun 2015. Beberapa tindakan praktis di lapangan mencakup modifikasi infrastruktur untuk memberikan keamanan, kebersihan, dan kenyamanan bagi perempuan (termasuk wanita hamil) seperti halnya pria, seperti ruang ganti dan kamar mandi terpisah, ruang untuk menyusui dan menyimpan ASI, serta Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai gender. (TPB 5)

• Tambang Los Pelambres Antofagasta di Chili menyediakan data online untuk tujuh air permukaan dan tiga titik pemantauan air tanah di sekitar lokasi tambang, untuk kadar tembaga, molibdenum, koliform, koliform fekal, dan sulfat di air permukaan dan air tanah (serta kadar zat besi di air permukaan) selama lebih dari periode 10 tahun. (TPB 6)

Rekomendasi

TPB memberikan wawasan yang bermanfaat untuk peran pengembangan dan transformatif yang dapat dijalankan oleh perusahaan di area sekitar lokasi tambang di negara tempat mereka beroperasi. Dengan pemikiran ini, perusahaan didorong untuk mempertimbangkan sejumlah langkah praktis berikut yang dapat membantu menunjukkan komitmen dan tindakan terkait TPB.

1. Tampilkan pertambangan yang bertanggung jawab sebagai model bisnis.
Perusahaan dapat menunjukkan kepemimpinan terkait TPB sebagai bagian dari cara rutin mereka melakukan bisnis, daripada sebagai upaya tambahan.

2. Tingkatkan status keberlanjutan dalam hierarki.
Membawa keberlanjutan ke dalam jajaran eksekutif level-C untuk tata kelola, akuntabilitas, dan signalling yang lebih kuat. Pertimbangkan memberi peran Chief Sustainability Officer pada jajaran CEO..

3. Perkuat departemen keberlanjutan.
Lengkapi departemen keberlanjutan dengan orang-orang, sumber daya, dan pengaruh yang cukup pada level perusahaan dan operasional untuk memungkinkan momentum di seluruh organisasi.

4. Tunjukkan kepemimpinan yang berani dan rekrut karyawan yang penuh aspirasi.
Perusahaan dapat memperoleh kepercayaan dan respek yang lebih kuat dalam jangka panjang dengan bersikap terbuka mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi, lingkungan, sosial dan tata kelola serta TPB. Pelaporan yang jujur dan seimbang tentang TPB beserta target yang berani akan mempertahankan dan menarik bagi staf yang penuh ambisi dan bakat.

5. Integrasikan TPB ke pekerjaan saat ini tentang masalah ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola.
Perusahaan yang telah menerapkan kebijakan dan praktik pertambangan yang bertanggung jawab dapat melangkah lebih jauh dengan menunjukkan integrasi TPB yang bermakna ke dalam strategi bisnis, tata kelola perusahaan, dan proses pemantauan keberlanjutan serta proses pelaporan mereka. Yang penting, TPB bukanlah persyaratan tambahan bagi perusahaan di luar upaya mereka atas masalah ekonomi, lingkungan, sosial dan tata kelola; tindakan efektif pada masalah-masalah TPB diwujudkan ke dalam kinerja efektif pada pertambangan yang berkelanjutan.

6. Manfaatkan target TPB dan kerangka kerja indikator untuk menetapkan target terukur progresif untuk tindakan TPB.
TPB digerakkan oleh data melalui indikator dan kerangka kerja. Alih-alih melihat TPB sebagai menu dari serangkaian opsi, gunakan Tujuan-Tujuan tersebut sebagai kerangka kerja untuk menilai kinerja berdasarkan baseline/titik awal dan menuju target kuantitatif ambisius yang progresif untuk mendorong dan melacak kemajuan mereka hingga tahun 2030 dan seterusnya.

7. Terapkan praktik pendukung TPB secara konsisten di seluruh perusahaan.
Perusahaan dapat belajar dari praktik-praktik yang baik dari perusahaan lain serta memperkuat contoh-contoh yang baik dari portofolio sendiri di seluruh operasi mereka. Studi kasus positif memang menginspirasi tetapi perlu ditiru dan dinormalisasi sebagai praktik standar, bahkan di seluruh lokasi tambang dalam perusahaan yang sama.

8. Ungkapkan poin data kepentingan publik tentang aktivitas perusahaan terkait TPB.
Perusahaan dapat secara proaktif mengungkap: (1) tindakan yang diambil terkait TPB, melalui pengelolaan masalah ekonomi, lingkungan, sosial dan tata kelola; (2) informasi tentang tindakan positif mereka, data tentang dampak negatif mereka serta penjelasan tentang tindakan mitigasi; dan (3) hasil pemantauan kinerja dan upaya yang mereka lakukan untuk meningkatkan kinerja.

9. Gunakan momentum Aksi Satu Dekade TPB/SDG Decade of Action untuk mendorong perubahan transformatif bagi masyarakat, generasi mendatang, dan industri pertambangan


Footnotes

  1. UNDP, CCSI, SDSN, WEF (2016). Mapping Mining to the Sustainable Development Goals: A Preliminary Atlas. (http://ccsi.columbia.edu/2016/07/19/mapping-mining-to-the-sustainabledevelopment-goals-an-atlas/
  2. University of Delaware (Minerals, Materials and Society program) in partnership with PACT (2020). Mapping Artisanal and Small-Scale Mining to the Sustainable Development Goals. https://www.pactworld.org/library/mapping-artisanal-and-small-scale-mining-sustainable-development-goals dan https://cpb-us-w2.wpmucdn.com/sites.udel.edu/dist/6/7985/files/2020/09/ASM-SDG_Policy_Assessment_Delaware-_Pact.pdf
  3. ICMM (2017). “Mining with Principles”, chart available at https://www.icmm.com/en-gb/metals-and-minerals/making-a-positive-contribution/sdgs
  4. See SDG 8, Promote inclusive and sustainable economic growth, employment and decent work for all on: https://www.un.org/sustainabledevelopment/economic-growth/
  5. Trucost (2020). Sustainable Development Goals (SDGs): Emerging Trends and Analysis of the SDG Impact of Companies in the S&P 500. (https://www.spglobal.com/marketintelligence/en/documents/sp-emerging-trends-and-analysis-05-002.pdf)

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *